PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SDM
Training SDM - Sertifikasi - Outbound Training - Training For Trainer - Training Pra Purnabhakti
Kamis, 28 Agustus 2014
Jumat, 23 Agustus 2013
MANAJEMEN MASALAH DI MASA PURNABHAKTI
Suatu hari seorang senator di
negara bagian Amerika sedang berjalan-jalan di taman kota. Beliau melihat
seroang anak kulit hitam sedang menggedong beban di pundaknya begitu berat.
Melihat anak itu sangat kerepotan, sang senator mendekat dan bertanya. “Nak
beban kamu sangat berat, apa gerangan yang kamu bawa, apakah kamu lelah?”
Diluar dugaan sang senator anak tersebut menjawab” Maaf tuan, ini bukan beban,
ini adik saya yang lumpuh kakinya dan harus pergi sekolah di sebrang blok taman
ini, hanya saya kakaknya yang bisa mengantarnya ke sekolah, saya lelah tetapi
saya bahagia” Mendengar jawaban anak tersebut, senator tersentuh dan mendapat
isnpirasi betapa beban bisa menjadi ringan dan membahagiakan jika dilakukan
dengan senang hati dan penuh kasih sayang. Sebagai rasa terima kasih atas
inspirasi yang diberikan oleh anak tersebut, senator membelikan kursi roda dan
kendaraan untuk antar jemput anak miskin tersebut.
Kisah
inspirastif diatas menunjukan bahwa menyikapi masalah dengan tepat akan membuat
lebih tahan terhadap masalah dan mendapatkan hasil lebih baik. Setiap manusia pasti
tidak akan luput dari masalah atau persoalan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun
dan dengan siapapun, semuanya adalah potensi masalah. Namun andaikata kita
cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap
orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada
pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah
menikmatinya.
Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya
bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan
tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik,
benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu
dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus
meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan,
harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.
Ada
kiat-kiat praktis yang bisa kita lakukakan ketika menghadapi masalah, ilmu ini
didapat dari guru kami KH Abdullah Gymnastiar semoga Allah Memberi Rahmat dan
Kasih sayangnya kepada beliau dan keluarga, kiat-kiatnya antara lain :
1.
Siap
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang
diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keiinginan.
Kita memang diharuskan memiliki keiinginan,
cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat
dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia
akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita.
Namun bersamaan dengan itu kitapun harus
sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak
keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar
dan kemampuan kita.
Dan pula dalam hidup ini ternyata sering sekali
atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang
di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya, andaikata kita
selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa terbayangkan
hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan,
hati yang galau, sungguh rugi padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian
yang tak didugapun pasti akan terjadi lagi.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah Swt pun punya
rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah Swt.
Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering
marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata
“kejadian” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar
dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.
Alkisah ada dua orang kakak beradik penjual tape,
yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat
shubuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah,
pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam.
Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum, untung belum
bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke
rumah. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan
yang biasa ditumpangi para pedagang tape terkena musibah sehingga seluruh
penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera berat, satu-satunya
diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang
selamat hanyala dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah.
Subhanalloh, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam
kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.
Oleh karena itu “fa idzaa azamta fa tawaqqal
alalloh” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan
segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Swt. Dan siapkan mental kita
untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah Swt.
Allah Swt, berfirman dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi
Allah Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal
buruk dalam pandangan Allah Swt.”
Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk
menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena yang melamar kita
belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya
maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri,
berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan, namun
siapkan pula diri ini andaikata Allah Yang MahaTahu bakat, karakter dan
kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun
tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.
Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan,
namun hati harus siap andaikata Allah Swt, tidak mengijinkan karena Allah Swt,
tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang
handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah
tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung
terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah dalam segala urusan apapun
yang kita hadapi.
2.Ridha
Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, dan bila
terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati
kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun
dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah
terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka,
lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.
Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah
menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah
menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi
orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik
pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang
goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa
dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi
sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu
kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus
ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela
terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa
pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita
menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk
memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Kondisi hati yang
tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal,
dan bermutu.
Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki
kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak
realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai – andai
sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu
kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu
dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang
yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah.
Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Biasanya, hal ini
dilanjutkan dengan bertengkar saling menyalahkan sehingga semakin lengkap saja
penderitaan dan kerugian karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi
milik orang lain.
Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa
tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih
tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah satu senti pun
jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau telah bercerai, atau sudah
meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan, bahkan terkadang menjadi
tidak mengenal sopan santun kepada keduanya, mempersatukan, atau
menghidupkannya kembali. Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir,
yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode
yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita
yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan
lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan
keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi
memperparah masalah.
Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun
kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang
diridhai Allah swt.
3. Jangan Mempersulit Diri
Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini
paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar
penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain
tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar,
lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada
kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih
nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.
Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh
sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil,
yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun
gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian
membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum
lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk
pengobatan, sementara umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang
derita kita buat, semakin panik menghadapi pensiun. Tentu saja sangat boleh
kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali
dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara
sebelum waktunya.
Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata
tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia
daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang Mahakaya akan menjadi kikir
terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal,
pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak
mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.
Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan
hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri
seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah
sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa
lolos?
Yakinlah bahwa Allah yang Mahatahu segalanya pasti
telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan
keadaan dan kemampuan kita. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti
ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (QS Al-Insyirah
[94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam
hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka.
Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan
dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya
dan dipergilirkan dengan keadilan Allah Swt.
4. Evaluasi Diri
Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan:
apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita.
Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan
melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah
pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS Al-ZalZalah [99]: 7-8)
Allah Swt Maha Peka terhadap apapun yang kita
lakukan. Dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang meleset, siapa pun yang
berbuat, sekecil dan setersembunyi apapun kebaikan, niscaya Allah Swt, akan
membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya. Sebaliknya,
kezaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzalimi
orang lain, padahal sesungguhnya menzalimi diri sendiri, akan mengundang
bencana balasan dari Allah Swt, yang pasti lebih getir dan gawat. Naudzubillah.
Andaikata ada batu yang menghantam kening kita,
selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu
ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu
kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai
bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan
sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.
Dompet hilang? Mengapa dari satu bus, hanya kita
yang ditakdirkan hilang dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang
sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Renungkankah: boleh jadi
kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Mahatahu jumlah zakat dan
sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apapun
yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.
Anak nakal, suami kurang betah di rumah dan kurang
mesra, rezeki seret dan sulit, bibir sariawan terus menerus, atau apa saja
kejadian yang menimpa dan dalam bentuk apapun adalah sarana yang paling tepat
untuk mengevaluasi segala yang terjadi. Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat
bermanfaat, andaikata kita mau bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.
Jangan terjebak pada sikap yang hanya menyalahkan
orang lain karena tindakan emosional seperti ini hanya sedikit sekali memberi
nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan, apabila tidak tepat dan berlebihan,
akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah
diri, berarti pula kita mengubah orang lain. Camkan bahwa orang lain tidak
hanya punya telinga, tetapi mereka pun memiliki mata, perasaan, pikiran yang
dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.
Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif
untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi
keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah Swt.
5. Hanya Allah-lah Satu satunya Penolong
Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali
dengan izin Allah Swt. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung
jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh
satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung
jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah
akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.
Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan
siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka,
sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain
Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah
Swt.
Ketahuilah, makhluk itu “La haula wala quwata illa
billahil’ aliyyil ‘ azhim” tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah
Yang MahaAgung. Asal kita hanyalah dari setetes sperma, ujungnya jadi bangkai,
ke mana-mana membawa kotoran.
Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan
3, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi
rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal
hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”
Jika kita menyadari dan meyakininya, kita memiliki
bekal yang sangat kukuh untuk mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar
menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur
masalah kita yang sebenarnya berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah
Swt Yang Mahasempurna. Dia sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari
segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit
dan pelik, semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah,
tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa
pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, dari satu persoalan
ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi dunia dan akhirat kita・benar-benar suatu kerugian yang nyata.
Terimalah ucapan selamat berbahagia, bagi
saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika diberi
kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya mulia, dermawan, hati
bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.
InsyaAllah, masalah yang ada akan menjadi jalan
pendidikan dan Allah yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah
ilmu, meluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini
jauh lebih bermutu, mulia, dan terhormat di dunia akhirat.
sumberr www.cybermq.net
Kamis, 22 Agustus 2013
Lebih Bahagia, Lebih Sehat, Lebih Sejahtera di Masa Pensiun
Pensiun bukan akhir dari segalanya, kita kita masih memilki potensi dan
kesempatan yang banyak untuk berkiprah dalam kehidupan ini. Manusia adalah
mahluk yang secara fitrah ingin berkarya atau usefull. Jika kita tidak berkarya
artinya kita mengingkari fitrah hidup kita.
Sarannya adalah bagaiman kita lebih berorientasi untuk menjadi “penyalur
peran Allah” di muka bumi, sehingga keberadaan kita membawa manfaat bagi
sebanyak-banyak orang. Sebagai pribadi bisanaya masa pensiun kita sudah banyak
mencapai hasil, mencapai impian dan keinginan-harapan hidup. Sudah sewajarnya
jika masa pensiun kita manfaatkan untuk lebih memberikan manfaat bagi diri
kita, keluarga, masyaraka dan sebanyak-banyak manusia di muka bumi ini
Keberlangsungan peran kita dalam kehidupan akan memberikan manfaat bagi
kesehatan baik kesehatan lahir maupun bathin. Sebagaiman kisah nyata dibawah
ini semoga menjadi hikmah bagi kita
Alkisah disebuah desa di pinggiran Kota Tasikmalaya, ada seorang kepala
desa yang sudah 24 tahun menjabat sebagai kepala desa. Pengambianya di desanya
sangat disenanangi oleh masyarakat sehingga sudah tiga periode beliau diplih
lagi menjadi kepala desa. Jika bukan karena faktor usia, sebagian masyarakat
masih menginginkan beliau menjabat lagi. Tetapi beliau sudah merasa terlalu
lama menjabat, usianyapun sudah memasuki 65 tahun, beliau merasa sudah waktunya
memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memimpin desanya.
Ketika sudah pensiun beliau berencana menikmati hidup bersama istrinya
berdua, karena anak-anaknya sudah mandiri dan berkeluarga semua.
Akhirnya beliau benar-benar sudah penisun, pagi-pagi beliau bangun dan ada
perasaan yang kurang nyaman, merasa janggal harus duduk-duduk di rumah sendiri.
Padahal biasanya pagi hari seperti ini beliau sudah berangkat menuju kantor
kepala desa, berisap-siap melakukan tugas rutinnya. Sehari beliau nikmati
santai di rumah, dua hari, tiga hari, semunggu sudah beliau berada di rumah.
Mulailah beliau merasakan kejenuhan, merasa hidup tidak berguna dan sepertinya
orang-orang sudah tidak membutuhkan dan memperhatikan.dirinya. Setiap bertemu
orang di depan rumah, perasaan malu bercampur bingung juga khawatir bercampur
aduk, khawatir jika ada yang bertanya sekarang kegiatanya apa? Takut dikatakan
orang, sekarang menjadi pengangguran dan tidak ada gunanya.
Akhirnya beliau merasa badanya tidak fit dan lemah, puncaknya beliau sakit
dan di rawat di rumah sakit. Para dokter mengira koleterol beliau tinggi, atau
tekanan darahnya tinggi. Tetapi sudah 2 bulan di rawat di Rumah Sakit Daerah,
belum juga ada perkembangan, bahka kondisinya semakin lemah. Beliau mengelukan
pusing dan lemas badanya. Tiga dokter spesialis langsung menangani kondisi
beliau yaitu spesialis jantung, spesialis penyakit dalam dan spesailis syaraf.
Ada hal yang aneh, ternyata ketiga dokter tidak bisa menemukan penyebab
sakit beliau, kondisi jantung beliau baik-baik saja, kalaupun ada masalah masih
ringan dan bisa diatasi, kondisi syaraf dan oragan lain pun masih baik-baik
saja.
Akhirnya ketiga dokter berinisatif untuk berdiskusi dengan pihak keluarga,
maka diadakanlah pertemuan dengan pihak keluarga.
Tim dokter menyampaikan bahwa menurut hasil pemeriksaan kondisi bapak tidak
terlalu buruk, tetapi kondisi bapak nampaknya dipengaruhi oleh tekanan pikiran
atau batin. Keluarga memahami kondisi bapak, karena sebelumnya memang sering
banyak keluhan dari bapak karena sudah tidak ada kegiatan lagi dan merasa tidak
berguna. Beliau mengatakan malu di rumah tidak ada kegiatan. Akhirnya keluarga
memusyawarahkan untuk memberikan sebuah kegiatan. Diplihlah kegiatan yang
ringan dan membawa manfaat banyak bagi sekitar rumah bapak tersebut. Anak-anak
bahu membahu membantu bapak memilki kegiatan yaitu memilki kebun sayuran dan
buah-buahan, disamping itu juga dirintis usaha membuat tempe kedelai. Usaha
yang dirintis oleh bapak dan anak-anaknya lambat laun berkembang, walaupun
kecil tetapi banyak membawa manfaat bagi tetangga. Bapak dengan suka hati
mebgaikan buah jika ada yang membutuhkan, tetapi juga sebagian sayuran dan
buah-buahan tersebut dijual kepasar. Tempe kedelai juga laris di warung-warung,
sejak itu bapak sibuk belnja kedelai, mengontrol karyawan dan menulisakan
pembukuaan keuangan.
Sejak bapak memilki aktivitas ternyata bapak lambat lauan lebih sehat,
beliau merasa lebih bahagia dan tenang menlanai hidupnya. Yang lebih penting
sekarang bapak sudah merasa bermanfaat lagi bagi lingkungannya, banyak orang
yang datang untuk menjadi penjual tempe, mengantarakan kayu bakar untuk
prosesing tempe atau sekedar membeli daun seledri dari kebun bapak. Tiga bulan
kemudian tim dokter menyempaikan kondisi bapak sehat dan bugar, bahkan sekarang
keluhan sakitnya berkurang banyak, setelah bapak memilki kegiatan yang
bermanfaat bagi lingkungannya.
Kisah nyata diatas sengaja diangkat,dengan harapan kita bisa mengambil
pelajaran dari kisah penisunan kepala desa tersebut. Ada beberapa
hikmah/pelajaran yang bisa diambil antara lain :
a.
Manusia akan stress dan sakit jika merasa hidupnya sudah tidak berguna,
tidak bermanfaat bagi dirinya, keluarga juga lingkunganya.
b.
Sakit fisik bisa disebagkan oleh sakit bathin, oleh karena itu selain
menjaga kesehatan kita juga harus menjaga kesehatan batin kita agar lebih
bahagia dan bermakna dalam hidup
c.
Aktifitas yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan orang lain akan
membahwa kebahagiaan bathin sehingga hidupnya lebih bermakna.
d.
KESIMPULANYA adalah hidup tidak mengenal kata PENSIUN, sampai kapanpun kita
harus terus berkarya mengoptimalkan potensi yang Allah SWT berikan kepada kita.
Hidup Tidak Ada Kata Pensiun
Hidup Tidak Ada Kata Pensiun
Disuatu Negeri hiduplah seorang Arsitek yang sangat
terkenal kepandaiannya dan kepiawaianya mendesain dan membangun bangunan. Jika sang arsitek ini mendesign bangunan maka
semua orang bisa memprediksikan bangunan yang dihasilkannya indah, kokoh dan
menakjubkan . Sang arsitek tersebut
bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang sangat terkenal di negeri
tersebut, bahkan konon katanya perusahaan tersebut menjadi besar dan terkenal
karena peranan dan kinerja sang arstiek dalam menciptakan desain bangunan yang
indah dan kokoh. Sebagai penghargaan bahkan dirinya diangkat menjadi Presiden
Direktur di Perusahaan tersebut. Semenjak di pimpin oleh sang arsitek tersebut
perusahaan semakin besar dan maju. Pemilik perusahaan sudah sangat percaya
terhadap sang arsitek dan sang arsitek dengan sepenuh hati memanfaatkan
kepercayaan tersebut sebaik-baiknya, dia anggap perusahaan tersebut sebagai
perusahaan dirinya sendiri. Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun terus
berjalan, sehingga akhirnya tibalah saatnya sang arsitek tersebut pensiun
. Walaupun perusahaan masih sangat
memerlukan kinerja dan peranannya, dan sang arsitekpun masih sangat ingin
mengabdi di perusahaan tersebut, tetapi peraturan perusahaan mengatur bahwan
usia maksimal karyawan di perusahaan adalah 56 tahun, sang arsitekpun memasuki
masa persiapan pensiun (mpp). Walaupun sedih dan berat harus meninggalkan
perusahaan yang sudah dianggap rumah keduanya, dan harus berpisah dengan
rekan-rekan kerjanya yang setiap hari berjuang bersama-sama dalam sedih dan
gembira, dalam kesulitan dan kesuksesan, tetapi waktu tidak bisa ditolak, mulai
hari besok dia tidak bisa ke kantor lagi karena selama 6 bulan dia diberi waktu
libur walau masih mendapat gaji sebelum waktu pensiun penuh.
Tiba-tiba telepeon genggamnya berdering, ternyata pemilik
perusahaan mengirim pesan singkat “Pak maaf menganggu, ditunggu di ruangan saya serkarang ada yang
ingin dibicarakan” Segera sang arsitek menjawab pesan singkat tersebut “ Siap
pak, saya segera menuju ruangan bapak” .
Sambil berjalan menuju ruangan pemilik perusahaan, dia
berfikir mungkin pemilik perusahaan akan menegaskan dan mengingatkan kembali
bahwa mulai besok dia tidak boleh lagi
masuk perusahaan. “Asalamualikum” Perlahan sang arsitek mengucapkan salam tepat
didepan ruangan pemilik perusahaan.
“Wa’alikum salam, oh iya pak sialahkan masuk, terima
kasih sudah datang” Bagaimana sehat pak? Timpal sang pemilik perusahaan dengan
penuh hormat dan bangga terhadap karyawannya yang paling banyak berperan dalam
membesarkan perusahaan. “Alhamdulillah baik pak, ada apa ya pak? Mendadak
memanggil saya di luar jadual pertemuan resmi perusahaan?” jawab sang arsitek,
sambil duduk di depan meja pemilik perusahaan tersebut. “Sambil tersenyum, pemilki perusahaan
menjawab, “ Iya nih maaf pak, bapak adalah Karyawan terbaik kami, karyawan
teladan dan penuh pengambidan, kami sangat berat dan kehilangan karena bapak
harus pensiun dari perusahaan ini. Tidak ada kata yang bisa mewakili untuk
menggambarkan betapa kami sangat berterima kasih atas jasa bapak diperusahaan
ini”
“Ah bapak terlalu berlebihan, apa yang saya lakukan
adalah hasil kerja semua karyawan, saya hanya karyawan biasa yang hanya ingin
melakukan terbaik bagi kejayaan perusahaan, tanpa bantuan dari teman-teman juga
tanpa motivasi dan arahan dari bapak sungguh saya tidak ada apa-apanya” jawab
sang arsitek merendah. “Betul pak kami sangat kehilangan, sulit menemukan
pengganti bapak diperusahaan ini, tetapi kami juga harus konsisten dengan
peraturan perusahaan bahwa setiap karyawan yang memasuki usaia 56 tahun harus
penisun” Ujar sang pemilik perusahaan sambil menatap serius kearah sang
arsitek.
“Tidak apa-apa kok pak, saya menerima dengan ikhlas, toh
saya sudah lama ingin punya banyak waktu dengan keluarga, dimana selama ini
saya sibuk terus bekerja” Jawab sang arsitek.
“Iya pak, saya tahu bapak orang yang sangat taat kepada
aturan, tetapi saya sebagai pribadi, sebagai pemilik perusahaan masih ada
permohonan buat bapak’
“Oh gitu, kalau boleh tahu apa permohonan bapak?” tanya
sang arsitek penuh tanda tanya. Pemilik Perusahaanpun melanjutkan
pembicaraanya: ”Saya memilki permohonan terakhir sebelum bapak memasuki penisun,
yaitu : Bangunlah sebuah rumah yang indah dan kokoh buat saya, semoga rumah ini
menjadi karya terakhir bapak, dan menjadi kenang-kenangan yang berharga suatu
saat nanti ketika bapak sudah tidak berkarya lagi diperuahaan. “Oh,
begitu..ba-baiklah pak” Sang arsitek menjawab tetapi hatinya masih bertanya,
mengapa pemilik perusahaan masih membebani pekerjaan padahal besok adalah masa
persiapan penisun, sedangkan membanghun rumah minimal memerlukan waktu tiga
bulanan, tetapi karena ini tugas dia menyanggupi tugas pemilik perusahaan
tersebut.
Besok harinya, mulailah sang arsitek mengerjakan tugas
pemilik perusahaan membangun rumah. Hatinya merasa berat dan tidak nyaman
dengan tugas terakhirnya. Mengapa saya masih diberikan tugas? Mengapa waktu
saya menikmati masa persiapan pensiun dengan keluarga diambil dengan tugas
membangun rumah boss, mengapa tidak orang lain saja yang mengerjakan tugas
tersebut, ah memang saya hanya seorang karyawan yang tidak memilki kewenangan
menolak perintah atasan. Demikian isi hati sang arsitek yang tidak puas dan
merasa terbebani dengan tugas terakhirnya. Singkat cerita akhirnya rumah
tersebut selesai dibangun, dan bergegas sang arsitek menuju ruangan pemilik
perusahaan untuk membeerikan laporan sekaligus memberikan kunci rumah tersebut.
Ada hal yang aneh dan berbeda yang terjadi dengan hasil
karya sang arsitek, semua orang yang melihat, bahkan karyawannya sendiri merasa
kaget, ternyata bangunan yang dibuat oleh sang arsitek biasa saja, tidak ada
lagi ciri khas dari polesan tangan sang arsitek yang terkenal tersebut, tidak
ada keindahan dan kekokohan, bahkan bangunan ini lebih jelek dari hasil karya
arsitek yang baru belajar, sunngguh fenomena yang mengagetkan semua ornag yang
tahu kinerja dari sang arsitek. Tetapi sang arsitek tidak menyadarinya, seakan
semua kinerja terbaiknya tertutup dengan kegundahan hatinya yang ingin segera
bebas dari tugas dan segera menikmati masa persiapan pensiunnya.
“Asalamu’alikum pak”
“Walaikum salama, pak, eh silahkan masuk pak, senang
sekali melihat bapak datang sore ini,
bagaimana pak, rumahnya sudah jadi? Tentu rumahnya sangat indah dan kokoh?
Pemilik perusahaan dengan wajah berbinar membrondong dengan pertanyaan kepada
sang arsitek (pemilik perusahaan belum melihat bangunan hasil karya terakhir
sang arsitek).
“Sudah pak, ini kuncinya sekalian saya serahkan kepada
bapak” Jawab sang arsitek tanpa ekspresi.
“Baik pak, terima kasih banyak bapak sudah menyelesaikan
permohonan terakhir saya” Ujar pemilik
perusahaan.
Tiba-tiba tanpa diduga oleh sang arsitek, pemilik
perusahaan menggenggam tangan sang arsitek sambil memberikan kembali kunci
rumah tersebut sambil berkata penuh haru dan bangga. “ Bapak yang baik, kami
sangat banyak dibantu oleh bapak, bahkan perusahaan ini menjadi besar karena
kinerja bapak yang baik, mengabdikan hidup dan kemampuan bapak untuk perusahaan
ini. Sebagai penghargaan atas jasa bapak
yang banyak ini, saya mengadiahkan rumah yang baru saja bapak selesaikan, untuk
bapak dan keluarga. Semoga dimasa pensiun bapak bisa nyaman bersama keluarga di
rumah baru yang dibuat bapak sendiri”
Dengan penuh haru bercampur aduk merasa bersalah karena
sudah berburuk sangka kepada majikannya. “Terima kasih pak, saya sungguh sangat
merasa terhormat dan bahagia mendapat hadiah yang sangat berharga bagi saya dan
keluarga”
Sang arsitek keluar dari ruangan pemilik perusahaan,
hatinya sangat sedih sudah berburuk sangka kepada atasanya, sehingga dia tidak
sungguh-sungguh mengerjakan tugas terakhir dari atasanya, padahal rumah
tersebut ternyata akan dihadiahkan buat dirinya. Jika saja dia tahu bahwa rumah
tersebut adalah milkinya pasti dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya, tetapi
sekarang nasi sudah menjadi bubur, sang arsitek sadar bahwa kebususkan hatinya
menyebabkan kinerjanya menjadi buruk dan tidak bisa memberikan terbaik dalam
karyanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
