Jumat, 23 Agustus 2013

MANAJEMEN MASALAH DI MASA PURNABHAKTI

Suatu hari seorang senator di negara bagian Amerika sedang berjalan-jalan di taman kota. Beliau melihat seroang anak kulit hitam sedang menggedong beban di pundaknya begitu berat. Melihat anak itu sangat kerepotan, sang senator mendekat dan bertanya. “Nak beban kamu sangat berat, apa gerangan yang kamu bawa, apakah kamu lelah?” Diluar dugaan sang senator anak tersebut menjawab” Maaf tuan, ini bukan beban, ini adik saya yang lumpuh kakinya dan harus pergi sekolah di sebrang blok taman ini, hanya saya kakaknya yang bisa mengantarnya ke sekolah, saya lelah tetapi saya bahagia” Mendengar jawaban anak tersebut, senator tersentuh dan mendapat isnpirasi betapa beban bisa menjadi ringan dan membahagiakan jika dilakukan dengan senang hati dan penuh kasih sayang. Sebagai rasa terima kasih atas inspirasi yang diberikan oleh anak tersebut, senator membelikan kursi roda dan kendaraan untuk antar jemput anak miskin tersebut.
Kisah inspirastif diatas menunjukan bahwa menyikapi masalah dengan tepat akan membuat lebih tahan terhadap masalah dan mendapatkan hasil lebih baik. Setiap manusia pasti tidak akan luput dari masalah atau persoalan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun dan dengan siapapun, semuanya adalah potensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.
Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.
Ada kiat-kiat praktis yang bisa kita lakukakan ketika menghadapi masalah, ilmu ini didapat dari guru kami KH Abdullah Gymnastiar semoga Allah Memberi Rahmat dan Kasih sayangnya kepada beliau dan keluarga, kiat-kiatnya antara lain :
1. Siap                        
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keiinginan.
Kita memang diharuskan memiliki keiinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita.
Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.
Dan pula dalam hidup ini ternyata sering sekali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya, andaikata kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan, hati yang galau, sungguh rugi padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian yang tak didugapun pasti akan terjadi lagi.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah Swt pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah Swt.
Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata “kejadian” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.
Alkisah ada dua orang kakak beradik penjual tape, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat shubuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum, untung belum bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tape terkena musibah sehingga seluruh penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera berat, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat hanyala dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah. Subhanalloh, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.
Oleh karena itu “fa idzaa azamta fa tawaqqal alalloh” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Swt. Dan siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah Swt.
Allah Swt, berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal buruk dalam pandangan Allah Swt.”
Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena yang melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan, namun siapkan pula diri ini andaikata Allah Yang MahaTahu bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.
Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan, namun hati harus siap andaikata Allah Swt, tidak mengijinkan karena Allah Swt, tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.
2.Ridha
Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, dan bila terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.
Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Kondisi hati yang tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.
Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai – andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Biasanya, hal ini dilanjutkan dengan bertengkar saling menyalahkan sehingga semakin lengkap saja penderitaan dan kerugian karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi milik orang lain.
Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah satu senti pun jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau telah bercerai, atau sudah meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan, bahkan terkadang menjadi tidak mengenal sopan santun kepada keduanya, mempersatukan, atau menghidupkannya kembali. Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir, yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah masalah.
Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridhai Allah swt.
3. Jangan Mempersulit Diri
Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.
Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk pengobatan, sementara umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang derita kita buat, semakin panik menghadapi pensiun. Tentu saja sangat boleh kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara sebelum waktunya.
Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.
Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?
Yakinlah bahwa Allah yang Mahatahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (QS Al-Insyirah [94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan dengan keadilan Allah Swt.
4. Evaluasi Diri
Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan: apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS Al-ZalZalah [99]: 7-8)
Allah Swt Maha Peka terhadap apapun yang kita lakukan. Dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang meleset, siapa pun yang berbuat, sekecil dan setersembunyi apapun kebaikan, niscaya Allah Swt, akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya. Sebaliknya, kezaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzalimi orang lain, padahal sesungguhnya menzalimi diri sendiri, akan mengundang bencana balasan dari Allah Swt, yang pasti lebih getir dan gawat. Naudzubillah.
Andaikata ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.
Dompet hilang? Mengapa dari satu bus, hanya kita yang ditakdirkan hilang dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Renungkankah: boleh jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Mahatahu jumlah zakat dan sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apapun yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.
Anak nakal, suami kurang betah di rumah dan kurang mesra, rezeki seret dan sulit, bibir sariawan terus menerus, atau apa saja kejadian yang menimpa dan dalam bentuk apapun adalah sarana yang paling tepat untuk mengevaluasi segala yang terjadi. Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat bermanfaat, andaikata kita mau bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.
Jangan terjebak pada sikap yang hanya menyalahkan orang lain karena tindakan emosional seperti ini hanya sedikit sekali memberi nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan, apabila tidak tepat dan berlebihan, akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah diri, berarti pula kita mengubah orang lain. Camkan bahwa orang lain tidak hanya punya telinga, tetapi mereka pun memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.
Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah Swt.
5. Hanya Allah-lah Satu satunya Penolong
Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah Swt. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.
Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka, sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah Swt.
Ketahuilah, makhluk itu “La haula wala quwata illa billahil’ aliyyil ‘ azhim” tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang MahaAgung. Asal kita hanyalah dari setetes sperma, ujungnya jadi bangkai, ke mana-mana membawa kotoran.
Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan 3, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”
Jika kita menyadari dan meyakininya, kita memiliki bekal yang sangat kukuh untuk mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita yang sebenarnya berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah Swt Yang Mahasempurna. Dia sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit dan pelik, semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, dari satu persoalan ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi dunia dan akhirat kitabenar-benar suatu kerugian yang nyata.
Terimalah ucapan selamat berbahagia, bagi saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika diberi kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya mulia, dermawan, hati bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.
InsyaAllah, masalah yang ada akan menjadi jalan pendidikan dan Allah yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah ilmu, meluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermutu, mulia, dan terhormat di dunia akhirat.

sumberr www.cybermq.net

Kamis, 22 Agustus 2013

Lebih Bahagia, Lebih Sehat, Lebih Sejahtera di Masa Pensiun

Pensiun bukan akhir dari segalanya, kita kita masih memilki potensi dan kesempatan yang banyak untuk berkiprah dalam kehidupan ini. Manusia adalah mahluk yang secara fitrah ingin berkarya atau usefull. Jika kita tidak berkarya artinya kita mengingkari fitrah hidup kita.
Sarannya adalah bagaiman kita lebih berorientasi untuk menjadi “penyalur peran Allah” di muka bumi, sehingga keberadaan kita membawa manfaat bagi sebanyak-banyak orang. Sebagai pribadi bisanaya masa pensiun kita sudah banyak mencapai hasil, mencapai impian dan keinginan-harapan hidup. Sudah sewajarnya jika masa pensiun kita manfaatkan untuk lebih memberikan manfaat bagi diri kita, keluarga, masyaraka dan sebanyak-banyak manusia di muka bumi ini
Keberlangsungan peran kita dalam kehidupan akan memberikan manfaat bagi kesehatan baik kesehatan lahir maupun bathin. Sebagaiman kisah nyata dibawah ini semoga menjadi hikmah bagi kita

Alkisah disebuah desa di pinggiran Kota Tasikmalaya, ada seorang kepala desa yang sudah 24 tahun menjabat sebagai kepala desa. Pengambianya di desanya sangat disenanangi oleh masyarakat sehingga sudah tiga periode beliau diplih lagi menjadi kepala desa. Jika bukan karena faktor usia, sebagian masyarakat masih menginginkan beliau menjabat lagi. Tetapi beliau sudah merasa terlalu lama menjabat, usianyapun sudah memasuki 65 tahun, beliau merasa sudah waktunya memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memimpin desanya.
Ketika sudah pensiun beliau berencana menikmati hidup bersama istrinya berdua, karena anak-anaknya sudah mandiri dan berkeluarga semua.
Akhirnya beliau benar-benar sudah penisun, pagi-pagi beliau bangun dan ada perasaan yang kurang nyaman, merasa janggal harus duduk-duduk di rumah sendiri. Padahal biasanya pagi hari seperti ini beliau sudah berangkat menuju kantor kepala desa, berisap-siap melakukan tugas rutinnya. Sehari beliau nikmati santai di rumah, dua hari, tiga hari, semunggu sudah beliau berada di rumah. Mulailah beliau merasakan kejenuhan, merasa hidup tidak berguna dan sepertinya orang-orang sudah tidak membutuhkan dan memperhatikan.dirinya. Setiap bertemu orang di depan rumah, perasaan malu bercampur bingung juga khawatir bercampur aduk, khawatir jika ada yang bertanya sekarang kegiatanya apa? Takut dikatakan orang, sekarang menjadi pengangguran dan tidak ada gunanya.
Akhirnya beliau merasa badanya tidak fit dan lemah, puncaknya beliau sakit dan di rawat di rumah sakit. Para dokter mengira koleterol beliau tinggi, atau tekanan darahnya tinggi. Tetapi sudah 2 bulan di rawat di Rumah Sakit Daerah, belum juga ada perkembangan, bahka kondisinya semakin lemah. Beliau mengelukan pusing dan lemas badanya. Tiga dokter spesialis langsung menangani kondisi beliau yaitu spesialis jantung, spesialis penyakit dalam dan spesailis syaraf.
Ada hal yang aneh, ternyata ketiga dokter tidak bisa menemukan penyebab sakit beliau, kondisi jantung beliau baik-baik saja, kalaupun ada masalah masih ringan dan bisa diatasi, kondisi syaraf dan oragan lain pun masih baik-baik saja.
Akhirnya ketiga dokter berinisatif untuk berdiskusi dengan pihak keluarga, maka diadakanlah pertemuan dengan pihak keluarga.
Tim dokter menyampaikan bahwa menurut hasil pemeriksaan kondisi bapak tidak terlalu buruk, tetapi kondisi bapak nampaknya dipengaruhi oleh tekanan pikiran atau batin. Keluarga memahami kondisi bapak, karena sebelumnya memang sering banyak keluhan dari bapak karena sudah tidak ada kegiatan lagi dan merasa tidak berguna. Beliau mengatakan malu di rumah tidak ada kegiatan. Akhirnya keluarga memusyawarahkan untuk memberikan sebuah kegiatan. Diplihlah kegiatan yang ringan dan membawa manfaat banyak bagi sekitar rumah bapak tersebut. Anak-anak bahu membahu membantu bapak memilki kegiatan yaitu memilki kebun sayuran dan buah-buahan, disamping itu juga dirintis usaha membuat tempe kedelai. Usaha yang dirintis oleh bapak dan anak-anaknya lambat laun berkembang, walaupun kecil tetapi banyak membawa manfaat bagi tetangga. Bapak dengan suka hati mebgaikan buah jika ada yang membutuhkan, tetapi juga sebagian sayuran dan buah-buahan tersebut dijual kepasar. Tempe kedelai juga laris di warung-warung, sejak itu bapak sibuk belnja kedelai, mengontrol karyawan dan menulisakan pembukuaan keuangan.
Sejak bapak memilki aktivitas ternyata bapak lambat lauan lebih sehat, beliau merasa lebih bahagia dan tenang menlanai hidupnya. Yang lebih penting sekarang bapak sudah merasa bermanfaat lagi bagi lingkungannya, banyak orang yang datang untuk menjadi penjual tempe, mengantarakan kayu bakar untuk prosesing tempe atau sekedar membeli daun seledri dari kebun bapak. Tiga bulan kemudian tim dokter menyempaikan kondisi bapak sehat dan bugar, bahkan sekarang keluhan sakitnya berkurang banyak, setelah bapak memilki kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Kisah nyata diatas sengaja diangkat,dengan harapan kita bisa mengambil pelajaran dari kisah penisunan kepala desa tersebut. Ada beberapa hikmah/pelajaran yang bisa diambil antara lain :
a.       Manusia akan stress dan sakit jika merasa hidupnya sudah tidak berguna, tidak bermanfaat bagi dirinya, keluarga juga lingkunganya.
b.       Sakit fisik bisa disebagkan oleh sakit bathin, oleh karena itu selain menjaga kesehatan kita juga harus menjaga kesehatan batin kita agar lebih bahagia dan bermakna dalam hidup
c.       Aktifitas yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan orang lain akan membahwa kebahagiaan bathin sehingga hidupnya lebih bermakna.

d.       KESIMPULANYA adalah hidup tidak mengenal kata PENSIUN, sampai kapanpun kita harus terus berkarya mengoptimalkan potensi yang Allah SWT berikan kepada kita.

Hidup Tidak Ada Kata Pensiun

Hidup Tidak Ada Kata Pensiun
Disuatu Negeri hiduplah seorang Arsitek yang sangat terkenal kepandaiannya dan kepiawaianya mendesain dan membangun bangunan.  Jika sang arsitek ini mendesign bangunan maka semua orang bisa memprediksikan bangunan yang dihasilkannya indah, kokoh dan menakjubkan .  Sang arsitek tersebut bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang sangat terkenal di negeri tersebut, bahkan konon katanya perusahaan tersebut menjadi besar dan terkenal karena peranan dan kinerja sang arstiek dalam menciptakan desain bangunan yang indah dan kokoh. Sebagai penghargaan bahkan dirinya diangkat menjadi Presiden Direktur di Perusahaan tersebut. Semenjak di pimpin oleh sang arsitek tersebut perusahaan semakin besar dan maju. Pemilik perusahaan sudah sangat percaya terhadap sang arsitek dan sang arsitek dengan sepenuh hati memanfaatkan kepercayaan tersebut sebaik-baiknya, dia anggap perusahaan tersebut sebagai perusahaan dirinya sendiri.  Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun terus berjalan, sehingga akhirnya tibalah saatnya sang arsitek tersebut pensiun .  Walaupun perusahaan masih sangat memerlukan kinerja dan peranannya, dan sang arsitekpun masih sangat ingin mengabdi di perusahaan tersebut, tetapi peraturan perusahaan mengatur bahwan usia maksimal karyawan di perusahaan adalah 56 tahun, sang arsitekpun memasuki masa persiapan pensiun (mpp). Walaupun sedih dan berat harus meninggalkan perusahaan yang sudah dianggap rumah keduanya, dan harus berpisah dengan rekan-rekan kerjanya yang setiap hari berjuang bersama-sama dalam sedih dan gembira, dalam kesulitan dan kesuksesan, tetapi waktu tidak bisa ditolak, mulai hari besok dia tidak bisa ke kantor lagi karena selama 6 bulan dia diberi waktu libur walau masih mendapat gaji sebelum waktu pensiun penuh.
Tiba-tiba telepeon genggamnya berdering, ternyata pemilik perusahaan mengirim pesan singkat “Pak maaf menganggu,  ditunggu di ruangan saya serkarang ada yang ingin dibicarakan” Segera sang arsitek menjawab pesan singkat tersebut “ Siap pak, saya segera menuju ruangan bapak” .  
Sambil berjalan menuju ruangan pemilik perusahaan, dia berfikir mungkin pemilik perusahaan akan menegaskan dan mengingatkan kembali bahwa mulai besok  dia tidak boleh lagi masuk perusahaan. “Asalamualikum” Perlahan sang arsitek mengucapkan salam tepat didepan ruangan pemilik perusahaan.
“Wa’alikum salam, oh iya pak sialahkan masuk, terima kasih sudah datang” Bagaimana sehat pak? Timpal sang pemilik perusahaan dengan penuh hormat dan bangga terhadap karyawannya yang paling banyak berperan dalam membesarkan perusahaan. “Alhamdulillah baik pak, ada apa ya pak? Mendadak memanggil saya di luar jadual pertemuan resmi perusahaan?” jawab sang arsitek, sambil duduk di depan meja pemilik perusahaan tersebut.  “Sambil tersenyum, pemilki perusahaan menjawab, “ Iya nih maaf pak, bapak adalah Karyawan terbaik kami, karyawan teladan dan penuh pengambidan, kami sangat berat dan kehilangan karena bapak harus pensiun dari perusahaan ini. Tidak ada kata yang bisa mewakili untuk menggambarkan betapa kami sangat berterima kasih atas jasa bapak diperusahaan ini” 
“Ah bapak terlalu berlebihan, apa yang saya lakukan adalah hasil kerja semua karyawan, saya hanya karyawan biasa yang hanya ingin melakukan terbaik bagi kejayaan perusahaan, tanpa bantuan dari teman-teman juga tanpa motivasi dan arahan dari bapak sungguh saya tidak ada apa-apanya” jawab sang arsitek merendah. “Betul pak kami sangat kehilangan, sulit menemukan pengganti bapak diperusahaan ini, tetapi kami juga harus konsisten dengan peraturan perusahaan bahwa setiap karyawan yang memasuki usaia 56 tahun harus penisun” Ujar sang pemilik perusahaan sambil menatap serius kearah sang arsitek.
“Tidak apa-apa kok pak, saya menerima dengan ikhlas, toh saya sudah lama ingin punya banyak waktu dengan keluarga, dimana selama ini saya sibuk terus bekerja” Jawab sang arsitek.
“Iya pak, saya tahu bapak orang yang sangat taat kepada aturan, tetapi saya sebagai pribadi, sebagai pemilik perusahaan masih ada permohonan buat bapak’
“Oh gitu, kalau boleh tahu apa permohonan bapak?” tanya sang arsitek penuh tanda tanya. Pemilik Perusahaanpun melanjutkan pembicaraanya: ”Saya memilki permohonan terakhir sebelum bapak memasuki penisun, yaitu : Bangunlah sebuah rumah yang indah dan kokoh buat saya, semoga rumah ini menjadi karya terakhir bapak, dan menjadi kenang-kenangan yang berharga suatu saat nanti ketika bapak sudah tidak berkarya lagi diperuahaan. “Oh, begitu..ba-baiklah pak” Sang arsitek menjawab tetapi hatinya masih bertanya, mengapa pemilik perusahaan masih membebani pekerjaan padahal besok adalah masa persiapan penisun, sedangkan membanghun rumah minimal memerlukan waktu tiga bulanan, tetapi karena ini tugas dia menyanggupi tugas pemilik perusahaan tersebut.
Besok harinya, mulailah sang arsitek mengerjakan tugas pemilik perusahaan membangun rumah. Hatinya merasa berat dan tidak nyaman dengan tugas terakhirnya. Mengapa saya masih diberikan tugas? Mengapa waktu saya menikmati masa persiapan pensiun dengan keluarga diambil dengan tugas membangun rumah boss, mengapa tidak orang lain saja yang mengerjakan tugas tersebut, ah memang saya hanya seorang karyawan yang tidak memilki kewenangan menolak perintah atasan. Demikian isi hati sang arsitek yang tidak puas dan merasa terbebani dengan tugas terakhirnya. Singkat cerita akhirnya rumah tersebut selesai dibangun, dan bergegas sang arsitek menuju ruangan pemilik perusahaan untuk membeerikan laporan sekaligus memberikan kunci rumah tersebut.
Ada hal yang aneh dan berbeda yang terjadi dengan hasil karya sang arsitek, semua orang yang melihat, bahkan karyawannya sendiri merasa kaget, ternyata bangunan yang dibuat oleh sang arsitek biasa saja, tidak ada lagi ciri khas dari polesan tangan sang arsitek yang terkenal tersebut, tidak ada keindahan dan kekokohan, bahkan bangunan ini lebih jelek dari hasil karya arsitek yang baru belajar, sunngguh fenomena yang mengagetkan semua ornag yang tahu kinerja dari sang arsitek. Tetapi sang arsitek tidak menyadarinya, seakan semua kinerja terbaiknya tertutup dengan kegundahan hatinya yang ingin segera bebas dari tugas dan segera menikmati masa persiapan pensiunnya.
“Asalamu’alikum pak”
“Walaikum salama, pak, eh silahkan masuk pak, senang sekali melihat bapak datang sore  ini, bagaimana pak, rumahnya sudah jadi? Tentu rumahnya sangat indah dan kokoh? Pemilik perusahaan dengan wajah berbinar membrondong dengan pertanyaan kepada sang arsitek (pemilik perusahaan belum melihat bangunan hasil karya terakhir sang arsitek).
“Sudah pak, ini kuncinya sekalian saya serahkan kepada bapak” Jawab sang arsitek tanpa ekspresi.
“Baik pak, terima kasih banyak bapak sudah menyelesaikan permohonan terakhir saya”  Ujar pemilik perusahaan.
Tiba-tiba tanpa diduga oleh sang arsitek, pemilik perusahaan menggenggam tangan sang arsitek sambil memberikan kembali kunci rumah tersebut sambil berkata penuh haru dan bangga. “ Bapak yang baik, kami sangat banyak dibantu oleh bapak, bahkan perusahaan ini menjadi besar karena kinerja bapak yang baik, mengabdikan hidup dan kemampuan bapak untuk perusahaan ini.  Sebagai penghargaan atas jasa bapak yang banyak ini, saya mengadiahkan rumah yang baru saja bapak selesaikan, untuk bapak dan keluarga. Semoga dimasa pensiun bapak bisa nyaman bersama keluarga di rumah baru yang dibuat bapak sendiri”
Dengan penuh haru bercampur aduk merasa bersalah karena sudah berburuk sangka kepada majikannya. “Terima kasih pak, saya sungguh sangat merasa terhormat dan bahagia mendapat hadiah yang sangat berharga bagi saya dan keluarga”

Sang arsitek keluar dari ruangan pemilik perusahaan, hatinya sangat sedih sudah berburuk sangka kepada atasanya, sehingga dia tidak sungguh-sungguh mengerjakan tugas terakhir dari atasanya, padahal rumah tersebut ternyata akan dihadiahkan buat dirinya. Jika saja dia tahu bahwa rumah tersebut adalah milkinya pasti dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya, tetapi sekarang nasi sudah menjadi bubur, sang arsitek sadar bahwa kebususkan hatinya menyebabkan kinerjanya menjadi buruk dan tidak bisa memberikan terbaik dalam karyanya.