Hidup Tidak Ada Kata Pensiun
Disuatu Negeri hiduplah seorang Arsitek yang sangat
terkenal kepandaiannya dan kepiawaianya mendesain dan membangun bangunan. Jika sang arsitek ini mendesign bangunan maka
semua orang bisa memprediksikan bangunan yang dihasilkannya indah, kokoh dan
menakjubkan . Sang arsitek tersebut
bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang sangat terkenal di negeri
tersebut, bahkan konon katanya perusahaan tersebut menjadi besar dan terkenal
karena peranan dan kinerja sang arstiek dalam menciptakan desain bangunan yang
indah dan kokoh. Sebagai penghargaan bahkan dirinya diangkat menjadi Presiden
Direktur di Perusahaan tersebut. Semenjak di pimpin oleh sang arsitek tersebut
perusahaan semakin besar dan maju. Pemilik perusahaan sudah sangat percaya
terhadap sang arsitek dan sang arsitek dengan sepenuh hati memanfaatkan
kepercayaan tersebut sebaik-baiknya, dia anggap perusahaan tersebut sebagai
perusahaan dirinya sendiri. Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun terus
berjalan, sehingga akhirnya tibalah saatnya sang arsitek tersebut pensiun
. Walaupun perusahaan masih sangat
memerlukan kinerja dan peranannya, dan sang arsitekpun masih sangat ingin
mengabdi di perusahaan tersebut, tetapi peraturan perusahaan mengatur bahwan
usia maksimal karyawan di perusahaan adalah 56 tahun, sang arsitekpun memasuki
masa persiapan pensiun (mpp). Walaupun sedih dan berat harus meninggalkan
perusahaan yang sudah dianggap rumah keduanya, dan harus berpisah dengan
rekan-rekan kerjanya yang setiap hari berjuang bersama-sama dalam sedih dan
gembira, dalam kesulitan dan kesuksesan, tetapi waktu tidak bisa ditolak, mulai
hari besok dia tidak bisa ke kantor lagi karena selama 6 bulan dia diberi waktu
libur walau masih mendapat gaji sebelum waktu pensiun penuh.
Tiba-tiba telepeon genggamnya berdering, ternyata pemilik
perusahaan mengirim pesan singkat “Pak maaf menganggu, ditunggu di ruangan saya serkarang ada yang
ingin dibicarakan” Segera sang arsitek menjawab pesan singkat tersebut “ Siap
pak, saya segera menuju ruangan bapak” .
Sambil berjalan menuju ruangan pemilik perusahaan, dia
berfikir mungkin pemilik perusahaan akan menegaskan dan mengingatkan kembali
bahwa mulai besok dia tidak boleh lagi
masuk perusahaan. “Asalamualikum” Perlahan sang arsitek mengucapkan salam tepat
didepan ruangan pemilik perusahaan.
“Wa’alikum salam, oh iya pak sialahkan masuk, terima
kasih sudah datang” Bagaimana sehat pak? Timpal sang pemilik perusahaan dengan
penuh hormat dan bangga terhadap karyawannya yang paling banyak berperan dalam
membesarkan perusahaan. “Alhamdulillah baik pak, ada apa ya pak? Mendadak
memanggil saya di luar jadual pertemuan resmi perusahaan?” jawab sang arsitek,
sambil duduk di depan meja pemilik perusahaan tersebut. “Sambil tersenyum, pemilki perusahaan
menjawab, “ Iya nih maaf pak, bapak adalah Karyawan terbaik kami, karyawan
teladan dan penuh pengambidan, kami sangat berat dan kehilangan karena bapak
harus pensiun dari perusahaan ini. Tidak ada kata yang bisa mewakili untuk
menggambarkan betapa kami sangat berterima kasih atas jasa bapak diperusahaan
ini”
“Ah bapak terlalu berlebihan, apa yang saya lakukan
adalah hasil kerja semua karyawan, saya hanya karyawan biasa yang hanya ingin
melakukan terbaik bagi kejayaan perusahaan, tanpa bantuan dari teman-teman juga
tanpa motivasi dan arahan dari bapak sungguh saya tidak ada apa-apanya” jawab
sang arsitek merendah. “Betul pak kami sangat kehilangan, sulit menemukan
pengganti bapak diperusahaan ini, tetapi kami juga harus konsisten dengan
peraturan perusahaan bahwa setiap karyawan yang memasuki usaia 56 tahun harus
penisun” Ujar sang pemilik perusahaan sambil menatap serius kearah sang
arsitek.
“Tidak apa-apa kok pak, saya menerima dengan ikhlas, toh
saya sudah lama ingin punya banyak waktu dengan keluarga, dimana selama ini
saya sibuk terus bekerja” Jawab sang arsitek.
“Iya pak, saya tahu bapak orang yang sangat taat kepada
aturan, tetapi saya sebagai pribadi, sebagai pemilik perusahaan masih ada
permohonan buat bapak’
“Oh gitu, kalau boleh tahu apa permohonan bapak?” tanya
sang arsitek penuh tanda tanya. Pemilik Perusahaanpun melanjutkan
pembicaraanya: ”Saya memilki permohonan terakhir sebelum bapak memasuki penisun,
yaitu : Bangunlah sebuah rumah yang indah dan kokoh buat saya, semoga rumah ini
menjadi karya terakhir bapak, dan menjadi kenang-kenangan yang berharga suatu
saat nanti ketika bapak sudah tidak berkarya lagi diperuahaan. “Oh,
begitu..ba-baiklah pak” Sang arsitek menjawab tetapi hatinya masih bertanya,
mengapa pemilik perusahaan masih membebani pekerjaan padahal besok adalah masa
persiapan penisun, sedangkan membanghun rumah minimal memerlukan waktu tiga
bulanan, tetapi karena ini tugas dia menyanggupi tugas pemilik perusahaan
tersebut.
Besok harinya, mulailah sang arsitek mengerjakan tugas
pemilik perusahaan membangun rumah. Hatinya merasa berat dan tidak nyaman
dengan tugas terakhirnya. Mengapa saya masih diberikan tugas? Mengapa waktu
saya menikmati masa persiapan pensiun dengan keluarga diambil dengan tugas
membangun rumah boss, mengapa tidak orang lain saja yang mengerjakan tugas
tersebut, ah memang saya hanya seorang karyawan yang tidak memilki kewenangan
menolak perintah atasan. Demikian isi hati sang arsitek yang tidak puas dan
merasa terbebani dengan tugas terakhirnya. Singkat cerita akhirnya rumah
tersebut selesai dibangun, dan bergegas sang arsitek menuju ruangan pemilik
perusahaan untuk membeerikan laporan sekaligus memberikan kunci rumah tersebut.
Ada hal yang aneh dan berbeda yang terjadi dengan hasil
karya sang arsitek, semua orang yang melihat, bahkan karyawannya sendiri merasa
kaget, ternyata bangunan yang dibuat oleh sang arsitek biasa saja, tidak ada
lagi ciri khas dari polesan tangan sang arsitek yang terkenal tersebut, tidak
ada keindahan dan kekokohan, bahkan bangunan ini lebih jelek dari hasil karya
arsitek yang baru belajar, sunngguh fenomena yang mengagetkan semua ornag yang
tahu kinerja dari sang arsitek. Tetapi sang arsitek tidak menyadarinya, seakan
semua kinerja terbaiknya tertutup dengan kegundahan hatinya yang ingin segera
bebas dari tugas dan segera menikmati masa persiapan pensiunnya.
“Asalamu’alikum pak”
“Walaikum salama, pak, eh silahkan masuk pak, senang
sekali melihat bapak datang sore ini,
bagaimana pak, rumahnya sudah jadi? Tentu rumahnya sangat indah dan kokoh?
Pemilik perusahaan dengan wajah berbinar membrondong dengan pertanyaan kepada
sang arsitek (pemilik perusahaan belum melihat bangunan hasil karya terakhir
sang arsitek).
“Sudah pak, ini kuncinya sekalian saya serahkan kepada
bapak” Jawab sang arsitek tanpa ekspresi.
“Baik pak, terima kasih banyak bapak sudah menyelesaikan
permohonan terakhir saya” Ujar pemilik
perusahaan.
Tiba-tiba tanpa diduga oleh sang arsitek, pemilik
perusahaan menggenggam tangan sang arsitek sambil memberikan kembali kunci
rumah tersebut sambil berkata penuh haru dan bangga. “ Bapak yang baik, kami
sangat banyak dibantu oleh bapak, bahkan perusahaan ini menjadi besar karena
kinerja bapak yang baik, mengabdikan hidup dan kemampuan bapak untuk perusahaan
ini. Sebagai penghargaan atas jasa bapak
yang banyak ini, saya mengadiahkan rumah yang baru saja bapak selesaikan, untuk
bapak dan keluarga. Semoga dimasa pensiun bapak bisa nyaman bersama keluarga di
rumah baru yang dibuat bapak sendiri”
Dengan penuh haru bercampur aduk merasa bersalah karena
sudah berburuk sangka kepada majikannya. “Terima kasih pak, saya sungguh sangat
merasa terhormat dan bahagia mendapat hadiah yang sangat berharga bagi saya dan
keluarga”
Sang arsitek keluar dari ruangan pemilik perusahaan,
hatinya sangat sedih sudah berburuk sangka kepada atasanya, sehingga dia tidak
sungguh-sungguh mengerjakan tugas terakhir dari atasanya, padahal rumah
tersebut ternyata akan dihadiahkan buat dirinya. Jika saja dia tahu bahwa rumah
tersebut adalah milkinya pasti dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya, tetapi
sekarang nasi sudah menjadi bubur, sang arsitek sadar bahwa kebususkan hatinya
menyebabkan kinerjanya menjadi buruk dan tidak bisa memberikan terbaik dalam
karyanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar