Kamis, 22 Agustus 2013

Hidup Tidak Ada Kata Pensiun

Hidup Tidak Ada Kata Pensiun
Disuatu Negeri hiduplah seorang Arsitek yang sangat terkenal kepandaiannya dan kepiawaianya mendesain dan membangun bangunan.  Jika sang arsitek ini mendesign bangunan maka semua orang bisa memprediksikan bangunan yang dihasilkannya indah, kokoh dan menakjubkan .  Sang arsitek tersebut bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang sangat terkenal di negeri tersebut, bahkan konon katanya perusahaan tersebut menjadi besar dan terkenal karena peranan dan kinerja sang arstiek dalam menciptakan desain bangunan yang indah dan kokoh. Sebagai penghargaan bahkan dirinya diangkat menjadi Presiden Direktur di Perusahaan tersebut. Semenjak di pimpin oleh sang arsitek tersebut perusahaan semakin besar dan maju. Pemilik perusahaan sudah sangat percaya terhadap sang arsitek dan sang arsitek dengan sepenuh hati memanfaatkan kepercayaan tersebut sebaik-baiknya, dia anggap perusahaan tersebut sebagai perusahaan dirinya sendiri.  Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun terus berjalan, sehingga akhirnya tibalah saatnya sang arsitek tersebut pensiun .  Walaupun perusahaan masih sangat memerlukan kinerja dan peranannya, dan sang arsitekpun masih sangat ingin mengabdi di perusahaan tersebut, tetapi peraturan perusahaan mengatur bahwan usia maksimal karyawan di perusahaan adalah 56 tahun, sang arsitekpun memasuki masa persiapan pensiun (mpp). Walaupun sedih dan berat harus meninggalkan perusahaan yang sudah dianggap rumah keduanya, dan harus berpisah dengan rekan-rekan kerjanya yang setiap hari berjuang bersama-sama dalam sedih dan gembira, dalam kesulitan dan kesuksesan, tetapi waktu tidak bisa ditolak, mulai hari besok dia tidak bisa ke kantor lagi karena selama 6 bulan dia diberi waktu libur walau masih mendapat gaji sebelum waktu pensiun penuh.
Tiba-tiba telepeon genggamnya berdering, ternyata pemilik perusahaan mengirim pesan singkat “Pak maaf menganggu,  ditunggu di ruangan saya serkarang ada yang ingin dibicarakan” Segera sang arsitek menjawab pesan singkat tersebut “ Siap pak, saya segera menuju ruangan bapak” .  
Sambil berjalan menuju ruangan pemilik perusahaan, dia berfikir mungkin pemilik perusahaan akan menegaskan dan mengingatkan kembali bahwa mulai besok  dia tidak boleh lagi masuk perusahaan. “Asalamualikum” Perlahan sang arsitek mengucapkan salam tepat didepan ruangan pemilik perusahaan.
“Wa’alikum salam, oh iya pak sialahkan masuk, terima kasih sudah datang” Bagaimana sehat pak? Timpal sang pemilik perusahaan dengan penuh hormat dan bangga terhadap karyawannya yang paling banyak berperan dalam membesarkan perusahaan. “Alhamdulillah baik pak, ada apa ya pak? Mendadak memanggil saya di luar jadual pertemuan resmi perusahaan?” jawab sang arsitek, sambil duduk di depan meja pemilik perusahaan tersebut.  “Sambil tersenyum, pemilki perusahaan menjawab, “ Iya nih maaf pak, bapak adalah Karyawan terbaik kami, karyawan teladan dan penuh pengambidan, kami sangat berat dan kehilangan karena bapak harus pensiun dari perusahaan ini. Tidak ada kata yang bisa mewakili untuk menggambarkan betapa kami sangat berterima kasih atas jasa bapak diperusahaan ini” 
“Ah bapak terlalu berlebihan, apa yang saya lakukan adalah hasil kerja semua karyawan, saya hanya karyawan biasa yang hanya ingin melakukan terbaik bagi kejayaan perusahaan, tanpa bantuan dari teman-teman juga tanpa motivasi dan arahan dari bapak sungguh saya tidak ada apa-apanya” jawab sang arsitek merendah. “Betul pak kami sangat kehilangan, sulit menemukan pengganti bapak diperusahaan ini, tetapi kami juga harus konsisten dengan peraturan perusahaan bahwa setiap karyawan yang memasuki usaia 56 tahun harus penisun” Ujar sang pemilik perusahaan sambil menatap serius kearah sang arsitek.
“Tidak apa-apa kok pak, saya menerima dengan ikhlas, toh saya sudah lama ingin punya banyak waktu dengan keluarga, dimana selama ini saya sibuk terus bekerja” Jawab sang arsitek.
“Iya pak, saya tahu bapak orang yang sangat taat kepada aturan, tetapi saya sebagai pribadi, sebagai pemilik perusahaan masih ada permohonan buat bapak’
“Oh gitu, kalau boleh tahu apa permohonan bapak?” tanya sang arsitek penuh tanda tanya. Pemilik Perusahaanpun melanjutkan pembicaraanya: ”Saya memilki permohonan terakhir sebelum bapak memasuki penisun, yaitu : Bangunlah sebuah rumah yang indah dan kokoh buat saya, semoga rumah ini menjadi karya terakhir bapak, dan menjadi kenang-kenangan yang berharga suatu saat nanti ketika bapak sudah tidak berkarya lagi diperuahaan. “Oh, begitu..ba-baiklah pak” Sang arsitek menjawab tetapi hatinya masih bertanya, mengapa pemilik perusahaan masih membebani pekerjaan padahal besok adalah masa persiapan penisun, sedangkan membanghun rumah minimal memerlukan waktu tiga bulanan, tetapi karena ini tugas dia menyanggupi tugas pemilik perusahaan tersebut.
Besok harinya, mulailah sang arsitek mengerjakan tugas pemilik perusahaan membangun rumah. Hatinya merasa berat dan tidak nyaman dengan tugas terakhirnya. Mengapa saya masih diberikan tugas? Mengapa waktu saya menikmati masa persiapan pensiun dengan keluarga diambil dengan tugas membangun rumah boss, mengapa tidak orang lain saja yang mengerjakan tugas tersebut, ah memang saya hanya seorang karyawan yang tidak memilki kewenangan menolak perintah atasan. Demikian isi hati sang arsitek yang tidak puas dan merasa terbebani dengan tugas terakhirnya. Singkat cerita akhirnya rumah tersebut selesai dibangun, dan bergegas sang arsitek menuju ruangan pemilik perusahaan untuk membeerikan laporan sekaligus memberikan kunci rumah tersebut.
Ada hal yang aneh dan berbeda yang terjadi dengan hasil karya sang arsitek, semua orang yang melihat, bahkan karyawannya sendiri merasa kaget, ternyata bangunan yang dibuat oleh sang arsitek biasa saja, tidak ada lagi ciri khas dari polesan tangan sang arsitek yang terkenal tersebut, tidak ada keindahan dan kekokohan, bahkan bangunan ini lebih jelek dari hasil karya arsitek yang baru belajar, sunngguh fenomena yang mengagetkan semua ornag yang tahu kinerja dari sang arsitek. Tetapi sang arsitek tidak menyadarinya, seakan semua kinerja terbaiknya tertutup dengan kegundahan hatinya yang ingin segera bebas dari tugas dan segera menikmati masa persiapan pensiunnya.
“Asalamu’alikum pak”
“Walaikum salama, pak, eh silahkan masuk pak, senang sekali melihat bapak datang sore  ini, bagaimana pak, rumahnya sudah jadi? Tentu rumahnya sangat indah dan kokoh? Pemilik perusahaan dengan wajah berbinar membrondong dengan pertanyaan kepada sang arsitek (pemilik perusahaan belum melihat bangunan hasil karya terakhir sang arsitek).
“Sudah pak, ini kuncinya sekalian saya serahkan kepada bapak” Jawab sang arsitek tanpa ekspresi.
“Baik pak, terima kasih banyak bapak sudah menyelesaikan permohonan terakhir saya”  Ujar pemilik perusahaan.
Tiba-tiba tanpa diduga oleh sang arsitek, pemilik perusahaan menggenggam tangan sang arsitek sambil memberikan kembali kunci rumah tersebut sambil berkata penuh haru dan bangga. “ Bapak yang baik, kami sangat banyak dibantu oleh bapak, bahkan perusahaan ini menjadi besar karena kinerja bapak yang baik, mengabdikan hidup dan kemampuan bapak untuk perusahaan ini.  Sebagai penghargaan atas jasa bapak yang banyak ini, saya mengadiahkan rumah yang baru saja bapak selesaikan, untuk bapak dan keluarga. Semoga dimasa pensiun bapak bisa nyaman bersama keluarga di rumah baru yang dibuat bapak sendiri”
Dengan penuh haru bercampur aduk merasa bersalah karena sudah berburuk sangka kepada majikannya. “Terima kasih pak, saya sungguh sangat merasa terhormat dan bahagia mendapat hadiah yang sangat berharga bagi saya dan keluarga”

Sang arsitek keluar dari ruangan pemilik perusahaan, hatinya sangat sedih sudah berburuk sangka kepada atasanya, sehingga dia tidak sungguh-sungguh mengerjakan tugas terakhir dari atasanya, padahal rumah tersebut ternyata akan dihadiahkan buat dirinya. Jika saja dia tahu bahwa rumah tersebut adalah milkinya pasti dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya, tetapi sekarang nasi sudah menjadi bubur, sang arsitek sadar bahwa kebususkan hatinya menyebabkan kinerjanya menjadi buruk dan tidak bisa memberikan terbaik dalam karyanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar