Pensiun bukan akhir dari segalanya, kita kita masih memilki potensi dan
kesempatan yang banyak untuk berkiprah dalam kehidupan ini. Manusia adalah
mahluk yang secara fitrah ingin berkarya atau usefull. Jika kita tidak berkarya
artinya kita mengingkari fitrah hidup kita.
Sarannya adalah bagaiman kita lebih berorientasi untuk menjadi “penyalur
peran Allah” di muka bumi, sehingga keberadaan kita membawa manfaat bagi
sebanyak-banyak orang. Sebagai pribadi bisanaya masa pensiun kita sudah banyak
mencapai hasil, mencapai impian dan keinginan-harapan hidup. Sudah sewajarnya
jika masa pensiun kita manfaatkan untuk lebih memberikan manfaat bagi diri
kita, keluarga, masyaraka dan sebanyak-banyak manusia di muka bumi ini
Keberlangsungan peran kita dalam kehidupan akan memberikan manfaat bagi
kesehatan baik kesehatan lahir maupun bathin. Sebagaiman kisah nyata dibawah
ini semoga menjadi hikmah bagi kita
Alkisah disebuah desa di pinggiran Kota Tasikmalaya, ada seorang kepala
desa yang sudah 24 tahun menjabat sebagai kepala desa. Pengambianya di desanya
sangat disenanangi oleh masyarakat sehingga sudah tiga periode beliau diplih
lagi menjadi kepala desa. Jika bukan karena faktor usia, sebagian masyarakat
masih menginginkan beliau menjabat lagi. Tetapi beliau sudah merasa terlalu
lama menjabat, usianyapun sudah memasuki 65 tahun, beliau merasa sudah waktunya
memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memimpin desanya.
Ketika sudah pensiun beliau berencana menikmati hidup bersama istrinya
berdua, karena anak-anaknya sudah mandiri dan berkeluarga semua.
Akhirnya beliau benar-benar sudah penisun, pagi-pagi beliau bangun dan ada
perasaan yang kurang nyaman, merasa janggal harus duduk-duduk di rumah sendiri.
Padahal biasanya pagi hari seperti ini beliau sudah berangkat menuju kantor
kepala desa, berisap-siap melakukan tugas rutinnya. Sehari beliau nikmati
santai di rumah, dua hari, tiga hari, semunggu sudah beliau berada di rumah.
Mulailah beliau merasakan kejenuhan, merasa hidup tidak berguna dan sepertinya
orang-orang sudah tidak membutuhkan dan memperhatikan.dirinya. Setiap bertemu
orang di depan rumah, perasaan malu bercampur bingung juga khawatir bercampur
aduk, khawatir jika ada yang bertanya sekarang kegiatanya apa? Takut dikatakan
orang, sekarang menjadi pengangguran dan tidak ada gunanya.
Akhirnya beliau merasa badanya tidak fit dan lemah, puncaknya beliau sakit
dan di rawat di rumah sakit. Para dokter mengira koleterol beliau tinggi, atau
tekanan darahnya tinggi. Tetapi sudah 2 bulan di rawat di Rumah Sakit Daerah,
belum juga ada perkembangan, bahka kondisinya semakin lemah. Beliau mengelukan
pusing dan lemas badanya. Tiga dokter spesialis langsung menangani kondisi
beliau yaitu spesialis jantung, spesialis penyakit dalam dan spesailis syaraf.
Ada hal yang aneh, ternyata ketiga dokter tidak bisa menemukan penyebab
sakit beliau, kondisi jantung beliau baik-baik saja, kalaupun ada masalah masih
ringan dan bisa diatasi, kondisi syaraf dan oragan lain pun masih baik-baik
saja.
Akhirnya ketiga dokter berinisatif untuk berdiskusi dengan pihak keluarga,
maka diadakanlah pertemuan dengan pihak keluarga.
Tim dokter menyampaikan bahwa menurut hasil pemeriksaan kondisi bapak tidak
terlalu buruk, tetapi kondisi bapak nampaknya dipengaruhi oleh tekanan pikiran
atau batin. Keluarga memahami kondisi bapak, karena sebelumnya memang sering
banyak keluhan dari bapak karena sudah tidak ada kegiatan lagi dan merasa tidak
berguna. Beliau mengatakan malu di rumah tidak ada kegiatan. Akhirnya keluarga
memusyawarahkan untuk memberikan sebuah kegiatan. Diplihlah kegiatan yang
ringan dan membawa manfaat banyak bagi sekitar rumah bapak tersebut. Anak-anak
bahu membahu membantu bapak memilki kegiatan yaitu memilki kebun sayuran dan
buah-buahan, disamping itu juga dirintis usaha membuat tempe kedelai. Usaha
yang dirintis oleh bapak dan anak-anaknya lambat laun berkembang, walaupun
kecil tetapi banyak membawa manfaat bagi tetangga. Bapak dengan suka hati
mebgaikan buah jika ada yang membutuhkan, tetapi juga sebagian sayuran dan
buah-buahan tersebut dijual kepasar. Tempe kedelai juga laris di warung-warung,
sejak itu bapak sibuk belnja kedelai, mengontrol karyawan dan menulisakan
pembukuaan keuangan.
Sejak bapak memilki aktivitas ternyata bapak lambat lauan lebih sehat,
beliau merasa lebih bahagia dan tenang menlanai hidupnya. Yang lebih penting
sekarang bapak sudah merasa bermanfaat lagi bagi lingkungannya, banyak orang
yang datang untuk menjadi penjual tempe, mengantarakan kayu bakar untuk
prosesing tempe atau sekedar membeli daun seledri dari kebun bapak. Tiga bulan
kemudian tim dokter menyempaikan kondisi bapak sehat dan bugar, bahkan sekarang
keluhan sakitnya berkurang banyak, setelah bapak memilki kegiatan yang
bermanfaat bagi lingkungannya.
Kisah nyata diatas sengaja diangkat,dengan harapan kita bisa mengambil
pelajaran dari kisah penisunan kepala desa tersebut. Ada beberapa
hikmah/pelajaran yang bisa diambil antara lain :
a.
Manusia akan stress dan sakit jika merasa hidupnya sudah tidak berguna,
tidak bermanfaat bagi dirinya, keluarga juga lingkunganya.
b.
Sakit fisik bisa disebagkan oleh sakit bathin, oleh karena itu selain
menjaga kesehatan kita juga harus menjaga kesehatan batin kita agar lebih
bahagia dan bermakna dalam hidup
c.
Aktifitas yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan orang lain akan
membahwa kebahagiaan bathin sehingga hidupnya lebih bermakna.
d.
KESIMPULANYA adalah hidup tidak mengenal kata PENSIUN, sampai kapanpun kita
harus terus berkarya mengoptimalkan potensi yang Allah SWT berikan kepada kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar