Kamis, 22 Agustus 2013

Lebih Bahagia, Lebih Sehat, Lebih Sejahtera di Masa Pensiun

Pensiun bukan akhir dari segalanya, kita kita masih memilki potensi dan kesempatan yang banyak untuk berkiprah dalam kehidupan ini. Manusia adalah mahluk yang secara fitrah ingin berkarya atau usefull. Jika kita tidak berkarya artinya kita mengingkari fitrah hidup kita.
Sarannya adalah bagaiman kita lebih berorientasi untuk menjadi “penyalur peran Allah” di muka bumi, sehingga keberadaan kita membawa manfaat bagi sebanyak-banyak orang. Sebagai pribadi bisanaya masa pensiun kita sudah banyak mencapai hasil, mencapai impian dan keinginan-harapan hidup. Sudah sewajarnya jika masa pensiun kita manfaatkan untuk lebih memberikan manfaat bagi diri kita, keluarga, masyaraka dan sebanyak-banyak manusia di muka bumi ini
Keberlangsungan peran kita dalam kehidupan akan memberikan manfaat bagi kesehatan baik kesehatan lahir maupun bathin. Sebagaiman kisah nyata dibawah ini semoga menjadi hikmah bagi kita

Alkisah disebuah desa di pinggiran Kota Tasikmalaya, ada seorang kepala desa yang sudah 24 tahun menjabat sebagai kepala desa. Pengambianya di desanya sangat disenanangi oleh masyarakat sehingga sudah tiga periode beliau diplih lagi menjadi kepala desa. Jika bukan karena faktor usia, sebagian masyarakat masih menginginkan beliau menjabat lagi. Tetapi beliau sudah merasa terlalu lama menjabat, usianyapun sudah memasuki 65 tahun, beliau merasa sudah waktunya memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memimpin desanya.
Ketika sudah pensiun beliau berencana menikmati hidup bersama istrinya berdua, karena anak-anaknya sudah mandiri dan berkeluarga semua.
Akhirnya beliau benar-benar sudah penisun, pagi-pagi beliau bangun dan ada perasaan yang kurang nyaman, merasa janggal harus duduk-duduk di rumah sendiri. Padahal biasanya pagi hari seperti ini beliau sudah berangkat menuju kantor kepala desa, berisap-siap melakukan tugas rutinnya. Sehari beliau nikmati santai di rumah, dua hari, tiga hari, semunggu sudah beliau berada di rumah. Mulailah beliau merasakan kejenuhan, merasa hidup tidak berguna dan sepertinya orang-orang sudah tidak membutuhkan dan memperhatikan.dirinya. Setiap bertemu orang di depan rumah, perasaan malu bercampur bingung juga khawatir bercampur aduk, khawatir jika ada yang bertanya sekarang kegiatanya apa? Takut dikatakan orang, sekarang menjadi pengangguran dan tidak ada gunanya.
Akhirnya beliau merasa badanya tidak fit dan lemah, puncaknya beliau sakit dan di rawat di rumah sakit. Para dokter mengira koleterol beliau tinggi, atau tekanan darahnya tinggi. Tetapi sudah 2 bulan di rawat di Rumah Sakit Daerah, belum juga ada perkembangan, bahka kondisinya semakin lemah. Beliau mengelukan pusing dan lemas badanya. Tiga dokter spesialis langsung menangani kondisi beliau yaitu spesialis jantung, spesialis penyakit dalam dan spesailis syaraf.
Ada hal yang aneh, ternyata ketiga dokter tidak bisa menemukan penyebab sakit beliau, kondisi jantung beliau baik-baik saja, kalaupun ada masalah masih ringan dan bisa diatasi, kondisi syaraf dan oragan lain pun masih baik-baik saja.
Akhirnya ketiga dokter berinisatif untuk berdiskusi dengan pihak keluarga, maka diadakanlah pertemuan dengan pihak keluarga.
Tim dokter menyampaikan bahwa menurut hasil pemeriksaan kondisi bapak tidak terlalu buruk, tetapi kondisi bapak nampaknya dipengaruhi oleh tekanan pikiran atau batin. Keluarga memahami kondisi bapak, karena sebelumnya memang sering banyak keluhan dari bapak karena sudah tidak ada kegiatan lagi dan merasa tidak berguna. Beliau mengatakan malu di rumah tidak ada kegiatan. Akhirnya keluarga memusyawarahkan untuk memberikan sebuah kegiatan. Diplihlah kegiatan yang ringan dan membawa manfaat banyak bagi sekitar rumah bapak tersebut. Anak-anak bahu membahu membantu bapak memilki kegiatan yaitu memilki kebun sayuran dan buah-buahan, disamping itu juga dirintis usaha membuat tempe kedelai. Usaha yang dirintis oleh bapak dan anak-anaknya lambat laun berkembang, walaupun kecil tetapi banyak membawa manfaat bagi tetangga. Bapak dengan suka hati mebgaikan buah jika ada yang membutuhkan, tetapi juga sebagian sayuran dan buah-buahan tersebut dijual kepasar. Tempe kedelai juga laris di warung-warung, sejak itu bapak sibuk belnja kedelai, mengontrol karyawan dan menulisakan pembukuaan keuangan.
Sejak bapak memilki aktivitas ternyata bapak lambat lauan lebih sehat, beliau merasa lebih bahagia dan tenang menlanai hidupnya. Yang lebih penting sekarang bapak sudah merasa bermanfaat lagi bagi lingkungannya, banyak orang yang datang untuk menjadi penjual tempe, mengantarakan kayu bakar untuk prosesing tempe atau sekedar membeli daun seledri dari kebun bapak. Tiga bulan kemudian tim dokter menyempaikan kondisi bapak sehat dan bugar, bahkan sekarang keluhan sakitnya berkurang banyak, setelah bapak memilki kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Kisah nyata diatas sengaja diangkat,dengan harapan kita bisa mengambil pelajaran dari kisah penisunan kepala desa tersebut. Ada beberapa hikmah/pelajaran yang bisa diambil antara lain :
a.       Manusia akan stress dan sakit jika merasa hidupnya sudah tidak berguna, tidak bermanfaat bagi dirinya, keluarga juga lingkunganya.
b.       Sakit fisik bisa disebagkan oleh sakit bathin, oleh karena itu selain menjaga kesehatan kita juga harus menjaga kesehatan batin kita agar lebih bahagia dan bermakna dalam hidup
c.       Aktifitas yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan orang lain akan membahwa kebahagiaan bathin sehingga hidupnya lebih bermakna.

d.       KESIMPULANYA adalah hidup tidak mengenal kata PENSIUN, sampai kapanpun kita harus terus berkarya mengoptimalkan potensi yang Allah SWT berikan kepada kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar