Suatu hari seorang senator di
negara bagian Amerika sedang berjalan-jalan di taman kota. Beliau melihat
seroang anak kulit hitam sedang menggedong beban di pundaknya begitu berat.
Melihat anak itu sangat kerepotan, sang senator mendekat dan bertanya. “Nak
beban kamu sangat berat, apa gerangan yang kamu bawa, apakah kamu lelah?”
Diluar dugaan sang senator anak tersebut menjawab” Maaf tuan, ini bukan beban,
ini adik saya yang lumpuh kakinya dan harus pergi sekolah di sebrang blok taman
ini, hanya saya kakaknya yang bisa mengantarnya ke sekolah, saya lelah tetapi
saya bahagia” Mendengar jawaban anak tersebut, senator tersentuh dan mendapat
isnpirasi betapa beban bisa menjadi ringan dan membahagiakan jika dilakukan
dengan senang hati dan penuh kasih sayang. Sebagai rasa terima kasih atas
inspirasi yang diberikan oleh anak tersebut, senator membelikan kursi roda dan
kendaraan untuk antar jemput anak miskin tersebut.
Kisah
inspirastif diatas menunjukan bahwa menyikapi masalah dengan tepat akan membuat
lebih tahan terhadap masalah dan mendapatkan hasil lebih baik. Setiap manusia pasti
tidak akan luput dari masalah atau persoalan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun
dan dengan siapapun, semuanya adalah potensi masalah. Namun andaikata kita
cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap
orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada
pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah
menikmatinya.
Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya
bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan
tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik,
benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu
dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus
meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan,
harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.
Ada
kiat-kiat praktis yang bisa kita lakukakan ketika menghadapi masalah, ilmu ini
didapat dari guru kami KH Abdullah Gymnastiar semoga Allah Memberi Rahmat dan
Kasih sayangnya kepada beliau dan keluarga, kiat-kiatnya antara lain :
1.
Siap
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang
diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keiinginan.
Kita memang diharuskan memiliki keiinginan,
cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat
dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia
akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita.
Namun bersamaan dengan itu kitapun harus
sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak
keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar
dan kemampuan kita.
Dan pula dalam hidup ini ternyata sering sekali
atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang
di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya, andaikata kita
selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa terbayangkan
hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan,
hati yang galau, sungguh rugi padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian
yang tak didugapun pasti akan terjadi lagi.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah Swt pun punya
rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah Swt.
Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering
marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata
“kejadian” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar
dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.
Alkisah ada dua orang kakak beradik penjual tape,
yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat
shubuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah,
pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam.
Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum, untung belum
bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke
rumah. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan
yang biasa ditumpangi para pedagang tape terkena musibah sehingga seluruh
penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera berat, satu-satunya
diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang
selamat hanyala dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah.
Subhanalloh, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam
kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.
Oleh karena itu “fa idzaa azamta fa tawaqqal
alalloh” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan
segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Swt. Dan siapkan mental kita
untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah Swt.
Allah Swt, berfirman dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi
Allah Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal
buruk dalam pandangan Allah Swt.”
Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk
menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena yang melamar kita
belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya
maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri,
berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan, namun
siapkan pula diri ini andaikata Allah Yang MahaTahu bakat, karakter dan
kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun
tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.
Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan,
namun hati harus siap andaikata Allah Swt, tidak mengijinkan karena Allah Swt,
tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang
handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah
tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung
terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah dalam segala urusan apapun
yang kita hadapi.
2.Ridha
Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, dan bila
terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati
kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun
dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah
terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka,
lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.
Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah
menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah
menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi
orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik
pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang
goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa
dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi
sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu
kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus
ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela
terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa
pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita
menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk
memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Kondisi hati yang
tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal,
dan bermutu.
Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki
kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak
realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai – andai
sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu
kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu
dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang
yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah.
Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Biasanya, hal ini
dilanjutkan dengan bertengkar saling menyalahkan sehingga semakin lengkap saja
penderitaan dan kerugian karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi
milik orang lain.
Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa
tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih
tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah satu senti pun
jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau telah bercerai, atau sudah
meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan, bahkan terkadang menjadi
tidak mengenal sopan santun kepada keduanya, mempersatukan, atau
menghidupkannya kembali. Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir,
yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode
yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita
yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan
lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan
keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi
memperparah masalah.
Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun
kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang
diridhai Allah swt.
3. Jangan Mempersulit Diri
Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini
paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar
penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain
tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar,
lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada
kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih
nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.
Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh
sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil,
yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun
gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian
membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum
lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk
pengobatan, sementara umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang
derita kita buat, semakin panik menghadapi pensiun. Tentu saja sangat boleh
kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali
dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara
sebelum waktunya.
Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata
tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia
daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang Mahakaya akan menjadi kikir
terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal,
pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak
mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.
Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan
hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri
seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah
sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa
lolos?
Yakinlah bahwa Allah yang Mahatahu segalanya pasti
telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan
keadaan dan kemampuan kita. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti
ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (QS Al-Insyirah
[94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam
hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka.
Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan
dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya
dan dipergilirkan dengan keadilan Allah Swt.
4. Evaluasi Diri
Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan:
apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita.
Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan
melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah
pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS Al-ZalZalah [99]: 7-8)
Allah Swt Maha Peka terhadap apapun yang kita
lakukan. Dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang meleset, siapa pun yang
berbuat, sekecil dan setersembunyi apapun kebaikan, niscaya Allah Swt, akan
membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya. Sebaliknya,
kezaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzalimi
orang lain, padahal sesungguhnya menzalimi diri sendiri, akan mengundang
bencana balasan dari Allah Swt, yang pasti lebih getir dan gawat. Naudzubillah.
Andaikata ada batu yang menghantam kening kita,
selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu
ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu
kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai
bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan
sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.
Dompet hilang? Mengapa dari satu bus, hanya kita
yang ditakdirkan hilang dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang
sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Renungkankah: boleh jadi
kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Mahatahu jumlah zakat dan
sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apapun
yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.
Anak nakal, suami kurang betah di rumah dan kurang
mesra, rezeki seret dan sulit, bibir sariawan terus menerus, atau apa saja
kejadian yang menimpa dan dalam bentuk apapun adalah sarana yang paling tepat
untuk mengevaluasi segala yang terjadi. Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat
bermanfaat, andaikata kita mau bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.
Jangan terjebak pada sikap yang hanya menyalahkan
orang lain karena tindakan emosional seperti ini hanya sedikit sekali memberi
nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan, apabila tidak tepat dan berlebihan,
akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah
diri, berarti pula kita mengubah orang lain. Camkan bahwa orang lain tidak
hanya punya telinga, tetapi mereka pun memiliki mata, perasaan, pikiran yang
dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.
Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif
untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi
keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah Swt.
5. Hanya Allah-lah Satu satunya Penolong
Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali
dengan izin Allah Swt. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung
jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh
satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung
jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah
akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.
Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan
siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka,
sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain
Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah
Swt.
Ketahuilah, makhluk itu “La haula wala quwata illa
billahil’ aliyyil ‘ azhim” tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah
Yang MahaAgung. Asal kita hanyalah dari setetes sperma, ujungnya jadi bangkai,
ke mana-mana membawa kotoran.
Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan
3, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi
rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal
hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”
Jika kita menyadari dan meyakininya, kita memiliki
bekal yang sangat kukuh untuk mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar
menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur
masalah kita yang sebenarnya berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah
Swt Yang Mahasempurna. Dia sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari
segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit
dan pelik, semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah,
tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa
pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, dari satu persoalan
ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi dunia dan akhirat kita・benar-benar suatu kerugian yang nyata.
Terimalah ucapan selamat berbahagia, bagi
saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika diberi
kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya mulia, dermawan, hati
bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.
InsyaAllah, masalah yang ada akan menjadi jalan
pendidikan dan Allah yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah
ilmu, meluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini
jauh lebih bermutu, mulia, dan terhormat di dunia akhirat.
sumberr www.cybermq.net